"Make sure your mother is happy with you, without making Allah unhappy" - Aiman Azlan
di Dewan Syura Al-Mizan,
UiTM Lendu.
Tentang betapa aku terlalu sering merindukanmu.
Tentang betapa aku begitu mengkhawatirkan keadaanmu.
Tentang betapa sapa darimu adalah yang kunanti-nanti setiap harinya.
Tentang betapa dahulu jarak begitu menjadi masalah buatku, dan sekarang ia telah mampu menjadi teman dekatku karena kamu.
Tentang betapa aku begitu tak ingin bangun dari tidurku,
saat memimpikanmu.
Sampai sebuah hal ini,: tentang betapa kau mampu begitu menyebalkan bagiku.
: Aku hanya ingin kau bahagia.Jika itu memang denganku, itulah kebahagiaan terbesar bagiku.
Bila bukan, tak mengapa.
Toh bahagiamu, juga tetap menjadi bahagiaku.
Walau mungkin ada secuil rasa nyeri,
karena aku tak mampu membayangkan,
ada wanita lain yang mampu membuatmu merasakan cinta sebesar cinta yang telah kuberikan.
Kau terlalu sering tak tahu harus berkata apa,
di saat aku sedang berduka.
Kau harus tahu,
terkadang aku tak ingin sebuah solusi.
Aku hanya ingin kau ada dan tak kemana-mana.
Seperti yang biasa kulakukan, saat kau sedang membutuhkan seseorang.Kau pun sering menghakimi,
maka tak jarang aku hanya akan berdiam diri.
Cukup lah kurasa, kegalauan yang kurasakan sendiri.Kau sering tak sadar,
bahwa semua keceriaanku adalah untuk mencerahkan harimu.
Dan kebisuanku, semata adalah ketidakberdayaanku untuk berkata, ‘aku tak ingin kau merasakan kesusahan yang sama’.Kau selalu saja mempermasalahkan segala rasa khawatirku atasmu.
Seandainya saja, ya seandainya saja kau merasanya juga.
Kurasa kau tak ingin, merasanya sampai dua kali.
Kau, Tuan.
Kau lelaki yang kucintai berkali-kali.
Kau lelaki yang kubuatkan ratusan puisi.
Kau lelaki yang terlalu sering menyebalkan hati.
Kau tak pernah tahu, dan tak pernah mau kuberi tahu.